Sizzy Azhiezhah
Sabtu, 12 Juli 2014
Minggu, 10 Maret 2013
HP vs Kesehatan
Penggunaan telepon genggam di dunia
terus meluas. Menurut International Telecommunication Union, pemakai telepon
genggam tahun ini diperkirakan mencapai lima miliar. Manusia semakin sulit lepas
dari genggaman telepon genggam di kesehariannya.
Kenyataan ini memicu kekhawatiran
akan dampak jangka panjang radiasi akibat penggunaan telepon genggam terhadap kesehatan.
Dugaan dampak radiasi telepon genggam terhadap kesehatan ini dimunculkan banyak
peneliti dari sejumlah negara. Penelitian yang luas dilakukan menyebutkan,
penyakit yang diduga berkaitan dengan penggunaan telepon genggam antara lain
kanker, terutama kanker otak, serta penyakit yang berhubungan dengan saraf,
tumor mata, hingga alzheimer.
Namun, penelitian seputar dampak
penggunaan telepon genggam terhadap kesehatan, terutama peningkatan angka
kejadian kanker, masih pro-kontra. Kesimpulan akan dampak radiasi gelombang
mikro dari telepon genggam itu dinilai sumir karena teknologi telepon genggam
ke depan masih terus berkembang.
Studi lainnya adalah kaitan antara
penggunaan telepon genggam dan peningkatan kasus kecelakaan bermotor.
Penggunaan telepon genggam saat menyetir dapat mengganggu konsentrasi yang
mengakibatkan mudahnya terjadi kecelakaan yang merenggut jiwa.
Penelitian itu kemudian didukung
dengan pelarangan penggunaan telepon genggam di jalan raya. Di Indonesia,
pelarangan juga sudah diberlakukan meskipun pada kenyataannya tanpa pengawasan
yang ketat.
Tetapi dalam kaitan kesehatan,
seperti tumor otak, kanker kulit, atau penyakit-penyakit yang berkaitan dengan
saraf masih belum ada titik temu meskipun dampak kesehatan itu dilihat dari
penggunaan telepon genggam yang memperhitungkan lamanya seseorang menggunakan
telepon genggam.
Di tengah upaya untuk memecahkan
misteri dampak penggunaan telepon genggam dengan kesehatan jangka panjang,
peneliti Inggris meluncurkan program penelitian terbesar di dunia pada akhir
April lalu. Penelitian yang memakan waktu 20-30 tahun ke depan itu diyakini
bisa jadi studi yang semakin obyektif untuk menganalisis dampak penggunaan
telepon genggam pada kesehatan penggunanya akibat radiasi.
Studi terbesar di dunia tentang
keamanan penggunaan telepon genggam itu bakal merekrut 250.000 pengguna telepon
genggam di lima negara di Eropa. Pengguna yang diteliti dari Inggris,
Finlandia, Denmark, Swedia, dan Belanda.
Prof Lawrie Challis, anggota
peneliti, mengatakan, studi ini penting. ”Kami belum bisa mengatakan dengan
pasti bahwa telepon genggam memicu kanker. Bukti-bukti yang ada belum kuat,”
kata Challis.
Dalam silang pendapat di antara
ilmuwan tersebut, dari sekarang perlu diambil langkah untuk memonitor pengaruh
telepon genggam pada kesehatan. Hasilnya akan dinilai obyektif karena pengguna
yang dipantau jumlahnya besar dan diamati dalam jangka waktu lama.
Mireille Toledano dari Imperial
College London menjelaskan, studi ini bukan cuma diarahkan untuk kanker otak.
Sebab, penggunaan telepon genggam amat beragam termasuk berselancar di situs
internet, yang berarti telepon tidak selalu di kepala.
Yang akan dilihat juga adalah
kaitannya pada masalah kesehatan yang lebih luas, termasuk bentuk lain dari
kanker, seperti kanker kulit, dan penyakit otak lainnya, seperti penyakit
neurodegenerative.
Dalam kaitan penelitian ini, yang
dimasalahkan adalah biasanya tergantung pada berapa banyak penggunaan telepon
genggam terhadap kesehatan. Penggunaan telepon genggam akan dicatat detail.
Peneliti juga akan memonitor WIFI,
telepon tanpa kabel dan penggunaan monitor bayi oleh peserta sebaik dengan
penggunaan teknologi yang bergerak, untuk mendapatkan gambaran yang lengkap
tentang terpaan pada semua radiasi tipe elektromagnetik terhadap kesehatan.
Beberapa penelitian
Sejumlah penelitian yang berlangsung
antara lain tentang pengaruh penggunaan telepon genggam pada tumor otak, yang
dilakukan selama empat tahun oleh Universitas Leeds, Nottingham, dan
Universitas Manchester and Institute of Cancer Research, London. Tahun 2006,
peneliti Inggris mengatakan, tidak ada kaitan antara penggunaan telepon genggam
dan meningkatnya angka kejadian tumor otak glioma yang biasa terjadi di otak
atau tulang belakang.
Andreas Stang dari Martin Luther
University of Halle Wittenberg di Jerman dan koleganya melakukan percobaan
menguji hubungan antara penggunaan telepon genggam dan risiko uveal melanoma
pada 459 pasien dan 1.194 pengontrol.
Mereka dikelompokkan menurut jumlah
penggunaan waktu menelepon, tidak pernah menggunakan, pengguna sporadis, dan
pengguna reguler. Tidak ada data signifikan antara penggunaan telepon sampai 10
tahun. ”Kami mengamati tidak ada peningkatan angka kejadian uveal melanoma di
antara pengguna telepon genggam atau peralatan radio di Jerman, di mana
teknologi telepon digital dikenalkan awal 1990-an,” katanya.
Peneliti lain menemukan ada banyak
anak muda yang mengeluhkan sakit di ibu jari, leher, dan tangan saat mengetik
pesan layanan pesan singkat (SMS). Studi itu dilakukan Sahlgrenska Academy,
University of Gothenburg, Swedia. Untuk mengatasi, perlu dilihat penyebabnya
seberapa sering pengguna memakai keypad telepon yang kecil. Juga perlu
diperhatikan postur tubuh dan jangan mengetik dengan satu ibu jari.
Bagi mereka yang gemar ber-SMS dalam
waktu lama, disarankan jangan duduk dengan posisi sama dalam waktu lama. Perlu
juga meregangkan jemari dan menggunakan dua ibu jari.
Memang belum ditemukan bukti kuat
pengaruh kesehatan pada pengguna telepon genggam anak-anak dan orang dewasa.
Para ahli menyarankan penggunaan telepon genggam untuk anak-anak mesti
dibatasi. Anak-anak dalam pandangan sejumlah peneliti mudah diserang radiasi
microwave karena saraf-saraf mereka masih berkembang, sementara tengkorak
mereka masih tipis dibandingkan dengan orang dewasa.
Radiasi yang ditransmisikan telepon
genggam bukan radiasi sinar-X, tetapi radiasi microwave. Sebagian ilmuwan
khawatir akibat radiasi itu bisa menghancurkan sel-sel otak karena telepon
dipakai dekat ke kepala.
Dari studi oleh Pusat Studi
Pendidikan Universitas Sheffield Hallam, Inggris, ditemukan 90 persen anak di
bawah usia 16 tahun memiliki telepon genggam pribadi dan satu dari 10
menghabiskan waktu lebih dari 45 menit memakainya. Penggunaan SMS di kalangan
anak-anak juga tinggi.
Dalam situasi tak pasti disarankan
setiap orang berupaya meminimalkan terpaan radiasi dari telepon genggam.
Penggunaan telepon genggam sebisa
mungkin jangan sampai membuat ketergantungan yang berlebihan karena bisa memicu
stres yang suatu saat juga bisa juga memicu kanker. Disarankan penggunaan hands
free saat bercakap-cakap guna meminimalkan radiasi ke otak.
Sabtu, 09 Maret 2013
aplikasi twitter khusus orang mati
Pengguna ponsel pintar biasa
mengunduh dan menggunakan aplikasi di ponsel pintarnya. Itu mereka lakukan saat
mereka masih hidup, bernafas, dan jantung masih berdetak. Namun, ada aplikasi
aneh yang akan diluncurkan bulan depan.
Sebuah agen iklan Lean Mean Fighting Machine yang berbasis di London pada Maret nanti akan meluncurkan aplikasi yang bisa posting di jejaring sosial Twitter walaupun Anda sudah mati.
Aplikasi bernama LivesOn ini akan terus mengirim tweet walau penggunanya sudah dikuburkan. Dave Bedwood, creative partner agen iklan tersebut, menyatakan aplikasi ini bisa mengundang pro-kontra. Namun, dia menilai orang yang susah hidup, sakit parah, koma, atau sudah tiada punya hak juga untuk tetap eksis di Twitter.
"Aplikasi ini akan membuat penggunanya tetap bisa nge-tweet walau jantungnya berhenti berdetak," ujarnya. Aplikasi ini nantinya akan digratiskan. Aplikasi ini bisa dilihat di www.Liveson.org atau di akun Twitter mereka, @_liveson
Aplikasi ini bekerja dengan mempelajari kebiasaan pengguna saat masih hidup. Aplikasi ini akan mengalisis apa yang disuka penggunanya, seleranya dan sintaks, serta link yang biasa di-posting pengguna. LivesOn menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk menganalisis perilaku online pengguna dan gaya penulisan mereka.
Dengan cara ini, LivesOn akan menjelajahi Internet untuk mem-posting jenis link yang biasa di-tweet, meniru cara mereka berkomunikasi, dan nge-tweet sesuai kebiasaan tepat .
Jika jadi diluncurkan, maka inilah serupa dengan aplikasi DeadSocial, yang diluncurkan April lalu, serta If I Die, diluncurkan pada Januari 2012. Kedua aplikasi ini menawarkan pengguna kemampuan untuk bisa posting dari kubur. Pengguna bisa memilih untuk posting di jejaring sosial Facebook, Twitter, dan LinkedIn.
DeadSocial bisa mengirim update status setelah akun pengguna mati atau tak aktif dalam jangka lama. Sedangkan If I Die bisa posting video atau teks ke Facebook pun setelah tiga teman mengkonfirmasi kematian mereka.
Walaupun mengundang belum ada orang mati yang mendaftar, tapi sudah ada satu orang hidup yang telah tertarik dan mendaftarkan. Mia Smith, seorang pengusaha di usia pertengahan 40-an, mengaku ingin memiliki "semacam warisan yang ironis". "Bagaimana pun, bahwa di dalam kubur yang dingin, itu (eksis di dunia maya) adalah hal yang bisa dilakukan," ujarnya.
Sebuah agen iklan Lean Mean Fighting Machine yang berbasis di London pada Maret nanti akan meluncurkan aplikasi yang bisa posting di jejaring sosial Twitter walaupun Anda sudah mati.
Aplikasi bernama LivesOn ini akan terus mengirim tweet walau penggunanya sudah dikuburkan. Dave Bedwood, creative partner agen iklan tersebut, menyatakan aplikasi ini bisa mengundang pro-kontra. Namun, dia menilai orang yang susah hidup, sakit parah, koma, atau sudah tiada punya hak juga untuk tetap eksis di Twitter.
"Aplikasi ini akan membuat penggunanya tetap bisa nge-tweet walau jantungnya berhenti berdetak," ujarnya. Aplikasi ini nantinya akan digratiskan. Aplikasi ini bisa dilihat di www.Liveson.org atau di akun Twitter mereka, @_liveson
Aplikasi ini bekerja dengan mempelajari kebiasaan pengguna saat masih hidup. Aplikasi ini akan mengalisis apa yang disuka penggunanya, seleranya dan sintaks, serta link yang biasa di-posting pengguna. LivesOn menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk menganalisis perilaku online pengguna dan gaya penulisan mereka.
Dengan cara ini, LivesOn akan menjelajahi Internet untuk mem-posting jenis link yang biasa di-tweet, meniru cara mereka berkomunikasi, dan nge-tweet sesuai kebiasaan tepat .
Jika jadi diluncurkan, maka inilah serupa dengan aplikasi DeadSocial, yang diluncurkan April lalu, serta If I Die, diluncurkan pada Januari 2012. Kedua aplikasi ini menawarkan pengguna kemampuan untuk bisa posting dari kubur. Pengguna bisa memilih untuk posting di jejaring sosial Facebook, Twitter, dan LinkedIn.
DeadSocial bisa mengirim update status setelah akun pengguna mati atau tak aktif dalam jangka lama. Sedangkan If I Die bisa posting video atau teks ke Facebook pun setelah tiga teman mengkonfirmasi kematian mereka.
Walaupun mengundang belum ada orang mati yang mendaftar, tapi sudah ada satu orang hidup yang telah tertarik dan mendaftarkan. Mia Smith, seorang pengusaha di usia pertengahan 40-an, mengaku ingin memiliki "semacam warisan yang ironis". "Bagaimana pun, bahwa di dalam kubur yang dingin, itu (eksis di dunia maya) adalah hal yang bisa dilakukan," ujarnya.
Senin, 04 Maret 2013
Minggu, 03 Maret 2013
Langganan:
Postingan (Atom)






























